
CERDAS BERMEDIA SOSIAL : MEMAHAMI DAMPAKPSIKOLOGIS CYBERBULLYING PADA REMAJA – SLN 2025
12 Desember 2025
Komunitas Belajar Guru SMP Tashfia – November 2025
13 Desember 2025
Cyberbullying: Bahaya Terbesar
Media Sosial
Pada zaman digital sekarang media sosial tidak seaman
yang kita bayangkan, terutama di kalangan remaja. Kekhawatiran tersebut muncul berdasar
data survei yang dikeluarkan UNICEF (2020) terhadap 2.777 remaja di
Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 45% dari mereka mengaku pernah
menjadi korban cyberbullying. Angka ini menjadi tanda bahaya mengenai
betapa rentannya generasi muda terdampak perundungan di dunia digital.
Pada Oktober 2025, kasus dugaan cyberbullying menimpa seorang mahasiswa Udayana berinisial TAS,
menjadi perhatian nasional. TAS ditemukan meninggal dunia setelah diduga
melompat dari gedung kampus. Sayangnya kabar duka tersebut justru menjadi bahan
perundungan di dalam grup percakapan daring rekan-rekan kampusnya. Kejadian
tragis ini memicu diskusi mendalam
tentang bahaya cyberbullying di
lingkungan pendidikan dan perlunya
sistem dukungan mental yang kuat.
Pengertian Cyberbullying
Cyberbullying
(perundungan dunia maya) ialah bullying/perundungan dengan menggunakan
teknologi digital. Hal ini dapat
terjadi di media
sosial, platform chatting, platform bermain game,
dan ponsel. (Sumber: UNICEF)
Jenis-jenis Cyberbullying
Cyberbullying tidak hanya berupa komentar negatif,
tetapi juga tindakan
yang dapat membuat korban marah, malu, hingga takut.
Berikut adalah beberapa macam perilaku cyberbullying:
Flaming
Mengirimkan pesan berisi kata-kata
cemoohan dan kasar.
Harassment
Mengirimkan pesan
secara berulang-ulang.
Impersonation
Menyamar atau meniru identitas seseorang.
Ancaman
Mengirim pesan atau komentar
berisikan ancaman.
Cyberstalking
Memata-matai, menguntit dan mengganggu seseorang secara intens.
Penyebab Seseorang Menjadi
Pelaku Cyberbullying
Setelah mengetahui beragam jenisnya, muncul pertanyaan
penting: Apa yang membuat seseorang tega melakukan tindakan
tersebut? Meskipun tindakan
ini dapat dilakukan
oleh siapa saja, mayoritas
kasus cyberbullying melibatkan remaja
sebagai pelaku utamanya. Perilaku perundungan di internet tidak terjadi begitu
saja, ada beberapa hal yang melatarbelakangi tindakan agresif tersebut, antara
lain:
Kurangnya Pengawasan Orang Tua
Kurangnya pengawasan dari orang tua dapat membuat
anak mudah terpapar
konten negatif yang mereka temukan atau dapatkan di media
sosial. Konten negatif ini memiliki pengaruh yang tinggi untuk ditiru seseorang
dalam keseharian.
Kebebasan Berekspresi
Pelaku melihat beberapa
orang melakukan cyberbullying di
media sosial secara terang-terangan.
Hal tersebut membuat pelaku merasa bahwa jika ia berbuat seperti itu,
perilakunya diperbolehkan karena banyak orang juga melakukannya dan tidak ada
yang melarang.
Ingin
Merasa Diakui
Kemungkinan pelaku memiliki kekurangan yang
disembunyikan. Untuk menutupi kekurangan tersebut agar tidak disadari orang
lain, pelaku melakukan cyberbullying yang
membuatnya ditakuti sekaligus dipuji.
Dengan demikian, pelaku
berhasil menutupi kelemahan dalam dirinya.
Sempat Menjadi
Korban Cyberbullying
Terkadang, pelaku cyberbullying
dahulunya adalah korban perundungan yang sama. Karena pernah dirundung melalui media sosial,
ia pun melakukan hal tersebut
kepada orang lain sebagai
bentuk balas dendam.
Penyebab Seseorang Menjadi
Korban Cyberbullying
Menjadi korban cyberbullying
bukanlah pilihan, tetapi dapat menimpa siapa saja tanpa memandang usia atau latar belakang. Ada beberapa faktor yang membuat
seseorang lebih rentan atau berisiko menjadi sasaran
perundungan daring, di antaranya:
Perbedaan Latar Belakang
Adanya perbedaan latar belakang dapat menyebabkan pandangan
negatif dari pelaku.
Beberapa perbedaan yang sering menjadi sorotan adalah Agama dan Ras.
Korban yang Terlalu Pendiam
dan Tidak Memiliki
Keberanian
Pelaku memiliki pandangan
bahwa orang yang pendiam tidak akan memiliki
keberanian bertindak apapun ketika diganggu.
Adanya
Konflik yang Terjadi
antara Pelaku dan Korban
Adanya konflik
membuat pelaku ingin melakukan perundungan kepada korban.
Karakteristik Fisik yang Berbeda
Pelaku memiliki anggapan
bahwa ciri fisik yang berbeda
itu tidak menarik.
Padahal, setiap orang punya ciri fisik yang unik dan
menarik.
Dampak bagi Korban
Cyberbullying
Terdapat banyak dampak yang ditimbulkan bagi korban cyberbullying diantaranya emosional,
mental, hingga fisik. Korban bisa mengalami kecemasan, depresi, kehilangan kepercayaan diri, dan isolasi sosial. Selain itu, dampak fisiknya bisa
berupa gangguan tidur, sakit kepala, dan masalah pencernaan. Dalam kasus yang
parah, cyberbullying dapat menyakiti
diri sendiri dan bahkan percobaan bunuh diri.
Dampak
Emosional
• Perasaan negatif:
Merasa takut, malu, marah, terhina,
dan tidak berdaya.
• Perasaan terisolasi: Merasa dikucilkan dan kehilangan minat pada hal-hal
yang disukai.
Dampak
Kesehatan Mental
•
Stress kronis: Mengalami stres berkepanjangan.
• Gangguan Kecemasan: Peningkatan tingkat kecemasan dan kekhawatiran berlebih.
• Depresi: Depresi
yang dapat menyebabkan hilangnya kebahagiaan dan kepuasan hidup
• Kehilangan harga
diri: Menurunnya kepercayaan dan harga diri.
• Risiko bunuh diri: Dalam kasus ekstrem,
dapat muncul pikiran
dan percobaan bunuh
diri.
Dampak Fisik
• Gangguan tidur:
Mengalami kelelahan karena kurang tidur.
• Masalah pencernaan: Sakit perut, maag, mual/diare.
Dampak bagi Pelaku
Cyberbullying
Dampak cyberbullying biasanya tertuju pada rasa sakit
yang dialami korban.
Namun, kita juga perlu melihat sisi lain, yaitu
mereka yang menjadi pelaku. Mereka akan merasakan dampak psikologis sulit menghadapi masalah
sosial di lingkungan, ditambah lagi dengan
risiko hukum yang nyata.
Berikut penjelasan yang lebih lengkap:
Dampak
Psikologis dan Emosional
• Masalah kesehatan mental:
Peningkatan risiko depresi,
kecemasan, dan gangguan
perilaku lainnya karena tekanan dari lingkungan, rasa bersalah, atau
penolakan dari teman.
• Agresivitas dan impulsivitas: Sering kali mengarah
pada perakaku agresif,
mudah marah, dan tindakan impulsif tanpa memikirkan
konsekuensinya
Dampak Sosial
• Isolasi sosial: Perilaku
negatif dapat membuat
pelaku sulit diterima
dalam lingkungan sosial dan justru dicap negatif oleh
masyarakat.
• Hubungan yang tidak sehat: Memicu
hubungan yang tidak sehat dengan
orang lain Karena kurangnya empati dan pemahaman.
Dampak Hukum
Sanksi hukum: Dapat menghadapi konsekuensi hukum Seperti denda atau hukuman
penjara, sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Mengatasi Cyberbullying
Lantas, jika terjadi
cyberbullying, apa yang harus dilakukan? Berikut
adalah beberapa solusi nyata dan langkah tepat sasaran
bagi kalian yang menjadi korban cyberbullying
untuk melindungi diri dan menghentikan perundungan tersebut:
Menghentikan Interaksi
Semakin kamu pedulikan, semakin pelaku akan terus mengganggumu, silakan blokir pelaku
jika ia terus mengganggumu.
Menyimpan Bukti
Kamu bisa menyimpan buktinya dengan tangkapan layar atau screenshot yang
dapat digunakan untuk
melaporkan.
Melaporkan ke Pihak Berwenang
Jika kamu tidak bisa menghadapi ini sendiri, kamu bisa melaporkannya kepada pihak
berwenang. Silakan bawa barang bukti untuk memperjelas.
Mendapatkan Dukungan Emosional
Dukungan bisa sangat
membantu kamu agar lebih merasa
nyaman. Bantuan bisa didapatkan dari orang tua, psikolog, teman dekat,
dan lain-lain.
Jangan Membalas
Pesan Mereka
Dilarang membalas
dikarenakan akan memperburuk situasi.
Cara Mencegah
Cyberbullying
Setelah membahas solusi secara umum, fokus beralih pada
pencegahan. Menangani masalah sejak awal jauh lebih baik daripada memperbaiki setelah terjadi. Berikut
adalah langkah-langkah nyata
dan mudah tentang cara menghindari cyberbullying,
terlebih lagi untuk orang tua yang memiliki peran besar dalam mendidik dan
mengawasi anak:
Orang
Tua Harus Mengetahui Dunia Digital Anak
Orang tua harus dapat menyaring konten negatif yang sering muncul
di media sosial.
Hal ini dapat mencegah
terjadinya peristiwa cyberbullying pada
anak.
Orang
Tua Harus Bisa Membuka Hati Anak
Dengan sering mengajak bicara anak dan menanyakan
keseharian mereka, baik saat di sekolah, bermain, berjalan-jalan, dan aktivitas lainnya, lama-kelamaan anak akan semakin
terbuka kepada orang tua.
Dengan demikian, orang tua dapat mengetahui kejadian yang dialami sang anak
serta memberikan saran atau pelajaran berharga terkait pengalaman tersebut.
Orang Tua Harus Mengedukasi Anak soal Bahayanya Cyberbullying
Melalui edukasi
ini, anak-anak akan mengetahui betapa bahayanya
cyberbullying di dunia maya.
Orang
Tua Harus Menjadi
Contoh Positif bagi Anak
Sebab, perilaku
orang tua akan dicontoh oleh anak, baik perilaku yang baik maupun
yang buruk.
Menjaga Privasi
dalam Mengunggah Konten
Jangan terlalu mengumbar rutinitas atau privasi sehari-hari dan jangan terlalu
membuka diri di media
sosial. Bisa saja suatu hari, tanpa sadar,
kamu sudah terlalu
membuka privasi orang lain
melalui unggahan kamu.
Cyberbullying
adalah masalah besar yang bisa
melukai banyak orang, baik yang jadi korban maupun pelaku. Dampak yang
ditimbulkan bukan sekadar perasaan sedih sesaat, melainkan bekas luka mendalam
yang bisa merusak masa depan seseorang. Karena itu, sudah saatnya kita semua
berhenti diam. Sebagai pengguna media sosial, kita punya tanggung jawab untuk
saling menjaga dan melindungi. Mulailah dengan menggunakan kata-kata yang baik
dan tidak menyakiti orang lain. Laporkan jika melihat ada perundungan terjadi.
Mari kita wujudkan
media sosial yang aman dan nyaman untuk semua, karena kepedulian kita
sangat berarti untuk menciptakan perubahan nyata.




